Malu Tak Bisa Bayar Pungutan Di Sekolah, Siswa SMP N 23 OKU Enggan Masuk Sekolah

oleh -5.268 views

BATURAJA, RumahBerita – Salah satu Siswa SMP N 23 OKU sebut saja Bunga (nama disamarkan) Eklas 9 sudah beberapa hari ini tidak lagi masuk sekolah lantaran malu tak mampu membayaran iyuran yang dipungut oleh pihak sekolah. Sehingga dirinya merasa malu lantaran kerap ditagih didepan teman-temannya.

“Aku malu kerap ditagih didepan kawan-kawan, sudah dua hari ini saya tidak masuk sekolah karana malu,” ungkap bunga saat ditemui RumahBerita. Selasa (4/2).

Dikatakannya, sudah tiga kali oknum guru menagih didepan kelas bahkan dihadapan siswa didik lainnya. Bahkan menurut Bunga. Dirinya sempat mendapat tekanan dari sang guru bahwasanya jika tidak bisa membayar uang sejumlah Rp 585 ribu maka pada saat ujian UNBK mendatang disuruh mencari pengawas dan tempat ujian sendiri.

Baca Juga =  Isteri Bupati OKI Gagas Gerakan Jahit Masker di Rumah

“Kata ibu guru saya, kalau tidak bisa membayar ujian nanti disuruh nyari pengawas sendiri dan nyari tempat sendiri,” tuturnya.

Sementara itu, Ipin (48) orang tua Bunga mengungkapkan, dirinya belum bisa membayaran kewajiaban yang ditetapkan sekolah lantaran dirinya tidak punya uang. Bahkan untuk mencukupi makan sehari-hari saja dirinya kesulitan.

“Sudah dua hari anak saya tidak masuk sekolah lantaran merasa malu ditagih terus oleh gurunya. Lebih baik anak saya berhenti saja sekolahnya, sebab saya tidak punya uang,” katanya.

Dijelaskan Ipin. Dirinya merasa keberatan atas iuran wajib yang ditetapkan sekolah, terlebih anaknya ada dua orang yang bersekolah di SMP N 23 OKU satu kelas 9 dan satunya kelas 7. Dimana keduanya ditetapkan iuran berbeda, yang kelas 9 diwajibkan membayar iuran sebesar Rp 117 ribu perbulan selama 5 bulan. Sedangkan anaknya yang kelas 7 sebesar Rp 45 ribu perbulan selama 5 bulan.

Baca Juga =  DPRD OKU Gelar Paripurna LPPA Bupati OKU TA 2019

“Terus terang saya tidak sanggup memenuhi kewajiban untuk membayaran iuran itu. Lihatlah sendiri kondisi saya sekarang. Saya bukan tidak ada upaya, bahkan saya pernah bertamu ke rumah kepala sekolah, tapi saat itu yang bersangkutan kemungkinan sedang sibuk jadi saya tidak bisa bertemu,” urai Ipin mengatakan dirinya pasrah atas nasib anaknya.

Secara terpisah, Ansus selaku kepala sekolah SMP N 23 OKU saat ditemui wartawan membenarkan bahwa pihaknya mengambil pungutan kepada seluruh siswa untuk membeli perangkat komputer dalam rangka menghadapi UNBK mendatang.

Baca Juga =  Sekda Klaim Siapkan Dana 101 Milyar Untuk Penanganan Covid-19

“Kami dan pihak sekolah sudah berkomitmen untuk menjalankan UNBK sendiri dan kami sudah menyatakan siap untuk pengadaan perangkat Komputer sebanyak 55 unit. Dan upaya untuk pengadaan itu kami memungut biaya kepada anak didik kami,” akunya kepada RumahBerita.

 


Disoal mengenai pungutan yang ditetapkan tersebut, dirinya menekankan bahwa piahaknya tidak melakukan pungutan yang ditetapkan, iuran tersebut merupakan iuran sukarela karena wali murid sudah menyepakiti melalui rapat komite sekolah.

“Terserah mau dibilang apa, menurut kami itu merupakan iuran sukarela untuk pengadaan perangkat Komputer guna menghadapi UNBK. Kalau ada wali murid yang keberatan silahkan menghadap saya. Kami tidak pernah melakukan pemaksaan,” pungkasnya. (Rully)

Print this entry